Esai Malu (53) > Ketika tiba di rumah, saya menyempatkan diri menggoreng nasi yang kucampurkan nasi goreng yang berlebih dari warung. Mestinya, saya tak perlu repot karena di meja makan tersaji ikan goreng dari sebuah restoran ternama dan tiga buah burger yang dibeli oleh anak lelakiku, serta satu porsi mi kering yang kubawa pulang setelah […]

Esai Malu (34) > “Maaf, Nak. Saya tak bisa mengikutkanmu mengantar tetamu untuk makan siang di pelelangan ikan lalu merambah berbagai lokasi bersejarah dan yang memiliki nilai budaya tinggi. (Jeda) Sungguh, saya tidak bisa mengikutkanmu karena tetamu akan berdesakan di mobil. Apalagi, ada teman perupa yang ikut dalam perjalananku dari jelang siang hingga malam” – […]

Esai Malu (29) > Seorang teman mengabarkan pembukaan temu penulis berkelas internasional di kotaku yang ke-empat kalinya dilaksanakan. Saya kemudian mengajak anak perempuanku ke benteng terbesar dan terkenal, Rotterdam, yang dijadikan lokasi kegiatan. Di depan benteng, kala kuparkir mobil di antara mobil milik pengunjung kafe yang terletak di seberang jalan, seorang teman yang membawa anak-istri […]

Esai Malu (14) > Hape-ku berdering kala saya tidak bergairah menulis. Saya berleha-leha di ranjang. Sendiri. Walau saya ogah-ogahan menjawab kontak, tetap saja berupaya menjawab. Ternyata, seorang amtenar mengabarkan jika kerabatku yang mengurus kepindahan dari daerah yang jauh ke pusat provinsi karena ibunya sakit-sakitan, ditolak. “Kata Pak Kepala BKD, semua orang yang pindah alasannya sama […]

Esai Malu (1) > Pintu kamarku terketuk di kala saya masih menatap layar kacar teve, menyimak film tentang kisah nyata Natascha Kampusch yang diculik selama 3.096 hari – dari usia 10 hingga 18 tahun. Di depan pintu yang terkuak, anak lelakiku memperlihatkan wajah yang tidak riang. “Kamu sakit, Nak?” Anak lelakiku menggeleng. “Lantas, ada apa?” […]

MALU LAGI (309): Penyelesaian naskah buku di pengujung. Pikiran awal “tuntas sebelum siang”, terkendala oleh belum masuknya bahan kata pengantar dari yang memesan buku di kotaku. Permintaan yang sejak dua hari sebelumnya kulakukan, tak jua muncul membuatku bingung. Kontak demi kontak yang kulakukan selalu terjawab “ditunggu”. Padahal, aku mengiyakan untuk mendatangi Temanggung – kota yang […]

MALU LAGI (310): Sepuluh hari aku berburu sate ayam yang kukenal sejak tahun 1983, hasilnya nihil. Hampir tiada hari tanpa menguntit gerobak yang mangkal di salah satu sudut pasar. Padahal, aku sangat merindukan dan membuat ilerku tumpah membayangkannya. Dan, jawaban yang kudapat: ada keluarganya yang wafat. Sore di kamar hotel, aku tak lagi berharap. Petugas […]