Category Serial “Malu”

Malu (10)

Lebih tiga jam di salah satu ruang ketua komisi DPR, aku membiarkan telinga tercekoki kondisi kehidupan oleh seorang teman lama yang memang sejak lama aku kenal sebagai aktivis kampus, anak pesantren, politikus, jurnalis, dan wajahnya kerap muncul di berbagai media televisi nasional sebagai sosok kritis. Dia yang sudah tiga periode menjadi anggota DPR itu, tak […]

Malu (9)

Kamar hotel terketuk. Seorang lelaki menjemputku untuk ikut ke sebuah stasiun televisi. Bergegas, aku naik mobil yang terbilang mahal. Hanya aku dan sopir, lelaki itu. Tanpa kata. Aku masih mengantuk setelah keliling Jakarta hingga jelang subuh bersama teman-teman sambil mengasup berbagai makanan yang biasanya membuat kepalaku pening dan tubuhku agak kacau. Mobil singgah di rumah […]

Malu (8)

Usai pesta karaoke-an tengah malam di Kalibata City, aku dan dua teman lama sepakat mencari makanan sehat di bilangan Pasar Minggu. Kami terbilang sering saling kontak untuk membahas obat herbal. Malah, salah satu temanku itu koor bisnisnya jamu. Satunya lagi: pernah kena stroke. Aku sudah lama menderita asam urat, diabetes melitius, dan tekanan darah tinggi. […]

Malu (7)

Aku sakit. Sendiri di kamar hotel. Semua nomor yang biasa kuhubungi, tidak terespon dan juga ada yang tidak aktif. Teringat kematian yang begitu dekat, aku memaksakan diri menghidupkan laptop menjelang subuh lalu membuka facebook, dan kutulis status “aku berusaha mengontak banyak orang, tapi tak ada jawaban/ aku sakit/ maafkan diriku atas segala salah”. Komentar mulai […]

Malu (6)

Di sebelah kamarku di hotel, sepasang suami-istri dari Cilacap menginap hampir seminggu. Setiap tahun, kisahnya: selalu berlibur ke berbagai kota dan negara asing. Bila pagi keduanya segera beredar membiarkan diri diantar pembecak hingga tengah malam. Kala pulang, aku dan teman-teman seniman maupun sastrawan masih asyik berbincang tentang banyak hal, termasuk membangun kepercayaan pasangan di rumah. […]

Malu (5)

Jelang siang aku mengajak seorang teman makan di warung makan prasmanan ala Jogja. Aku terperangah kala dia hanya memesan minuman. “Lho, kamu tak menemaniku makan?” tanyaku sekenanya yang dijawab, “Bungkus saja, aku mau makan dengan pacarku.” Tapi aku tak setuju. Aku tak ingin lagi seperti malam sebelumnya, dia tak menghabiskan sajian makanan di sebuah restoran […]

Malu (4)

Lelaki tua yang berprofesi teaterawan itu hanya mendengar dengan mata sesekali melirik pada dua lelaki yang jauh lebih muda di malam hingga jelang Jumat subuh kala berdiskusi di depan kamar hotelku, di Jogja. Saat ditanya mengapa memilih diam, dia berujar: “saya ini sudah tua, tak memiliki lagi masa depan. Kalianlah yang kini mencetak masa depan. […]