Esai Malu (123) >

Esai Malu (123) >

Jadwal mingguan haruslah kujalani: mengantar istri ke kampung menjaga ibu. Namun, rencana ke kampung Jumat malam, terkendala. Saya sangat letih. Anak lelakiku baru tiba dari kampung. Anak perempuanku langsung terlelap di kamarnya setelah tiba di rumah.

“Kita ke kampung sebelum subuh. Nanti, kita mampir di warung kopi sebelum sampai di rumah kakak,” kataku ke istri sebelum tumbang di ranjang.

Rencana tinggal rencana! Saya ketiduran. Di saat saya terjaga, istriku tersenyum. Dia baru saja salat subuh. Pun, saya bergegas dan bebenah untuk menuju kampung. Tetapi, istriku berujar pelan: “Saya siapkan sarapan.”

Keinginan ke kampung tetap saja menemui kendala. Belum siang, seorang teman perupa muncul di depan pintu rumah. Dia membawa ikan kerapu asin dari Selayar – ikan yang sangat kuidamkan, terlebih proses pengeringan masih terbilang agak basah.

Istriku kembali mengurusi dapur. Menyiapkan ikan kerapu asin digoreng dan sup “konro” yang berbahan dasar tulang iga sapi.

Saya kemudian mengontak seorang teman perupa yang rumahnya tidak jauh dari rumahku. Intinya, saya berharap bisa berbincang lebih ramai dan makan bersama. Toh, saya tetap saja dilarang oleh istri untuk mengasup “konro” dengan alasan bahwa tekanan darahku bisa saja meninggi. Padahal, ikan asin juga berpotensi menaikkan tekanan darah.

Puncak siang baru saja berlalu. Saya mengemudikan mobil anak lelakiku ke kampung. Di jok depan, istriku sibuk membaca koran pagi. Di jok tengah, anak perempuanku asyik memainkan hape.

Di tengah perjalanan, ayah – saya menyebut ayah pada ayah istriku – mengontak nomor hape istriku. Dia mengabarkan jika ada undangan pesta pernikahan kerabat untukku tertitip di rumahnya karena si pembawa undangan tidak mengetahui alamat rumahku, informasi yang telah diberikan tiga hari sebelumnya.

“Pesta dilangsungkan nanti malam. (Jeda) Mataku tidak terlalu awas bila menyetir di malam hari,” katanya dalam bahasa etnik Bugis.

Pun, kujawab: “Nanti saya jemput setelah pulang dari kampung …”.

Kala tiba di rumah kakak, istriku langsung mengurusi ibu. Anak perempuanku menyimak tayangan teve. Saya mengetik sejenak lalu tertidur di lantai ruang tamu.

Sangat sore, saya terbangun. Pun, saya bergegas pulang ke kotaku bersama anak perempuanku. Rencanaku: pulang ke rumah untuk bersalin busana pesta kemudian menjemput ayah.

Saat pulang, kemacetan mengadang. Jarak yang kerap kutempuh tak lebih dari lima menit di sebuah jalur yang dekat ke bandara baru, harus kulewati lebih dari satu jam. Akibatnya, saya telat menjemput ayah. Dan, saya memutuskan langsung ke rumah ayah tanpa peduli akan busana pesta.

“Nanti, Kakek saja yang masuk ke tempat pesta. Saya hanya mengantar,” kataku ke anak perempuanku.

Ayah tampak gagah di usia tuanya dengan balutan jas. Dia bersiap menghadiri pesta.

Tentang jas, dia termasuk penggila busana jas yang lengkap. Di lemari pakaiannya, sekitar seratus jas berderet. Pernah, saya memakai jas miliknya kala saya harus mendatangi pesta. Duh, jas yang kepanjangan dengan celana yang kekecilan. Pernah pula, ayah marah di saat akan mengantar seorang kerabat ke prosesi pernikahan, saya hanya menggunakan kemeja dengan celana panjang. Dia berontak! Dia mengharuskanku memakai kain sarung sutera dengan balutan jas disertai kopiah.

Kening ayah mengernyit melihati busanaku: celana pendek dan kaus pendek lusuh.

“Maaf, saya tidak sempat pulang ke rumah karena macet di perjalanan setelah kembali dari mengantar istri …” – saya berupaya membangun kesan bahwa saya tidak siap ikut ke pesta kecuali hanya berposisi sebagai sopir.

Kening ayah kian mengerut.

“Saya pakai sarung saja dan di mobil … ada kemeja anak lelakiku,” ujarku sekenanya.

“Ada sarung sutera di kamar. Pakai saja jas milikku.”

Saya meraih sarung sutera. Kupakai. Di mobil, kemeja yang tergeletak di jok, kupakai. Duh, lengan saja tak muat. Sangat kekecilan. Pasalnya, kemeja itu milik kakak kandung dari anak lelakiku yang tubuhnya terbilang kurus. Pun, saya akhirnya meminjam jas milik ayah.

Di tempat pesta, banyak mata keheranan memandangku. Di antara tetamu, ada promotorku, dosen-dosen di kampus almamaterku karena si pemilik pesta adalah salah seorang dosen di fakultas tempatku kuliah, kerabat dari kampungku, dan tetamu lain. Saya memang berbusana aneh!

Di perjalanan pulang mengantar ayah, kami terlibat perbincangan masa silam. Ayah membahas kakek buyutku yang wafat dengan usia lebih dari 100 tahun. Perbincangan yang mestinya tidak menguras tenaga dan pikiran karena kisah hidup kakek buyut kuakrabi sejak kanak. Hanya saja, saya tidak terlalu fasih berbahasa Bugis karena saya dibesarkan di lokus Makassar. Akibatnya, beberapa kata kehilangan makna karena saya salah ucap. Dan, pikiranku kemudian meliar ke kondisi anak lelakiku yang anggota legislatif di kampung jika kelak bertemu dengan masyarakat yang umumnya menggunakan bahasa daerah. Toh, anak lelakiku kubesarkan dengan bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu. Duh!

(Makassar, 7 September 2014)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: