Esai Malu (116) >

Esai Malu (116) >

Belum larut, istriku tiba-tiba menyuruhku rehat. Awalnya, hanya berupaya membaluri salep obat ke bekas operasi dan kulit yang memerah-hitam di kaki kiriku. Namun, dia justru melarangku bekerja. “Tidur saja!”

Jelang tengah malam, saya menyusup meninggalkan kamar tidur. Saya sangat ingin mengetik naskah buku, tetapi saya tidak ingin mengusik istriku yang terlelap. Pun, saya secara perlahan keluar dari rumah. Kujemput seorang teman perupa yang rumahnya terbilang dekat dengan rumahku, setelah saya mengontaknya. Dan, kami ke sebuah warung kopi.

Dua jam lebih di warkop, saya menutup laptop. Saya tersadar jika temanku juga harus rehat, apalagi istrinya hamil dan butuh didampingi setiap saat.

“Maaf, saya merepotkanmu” – kataku di saat melanjutkan perjalanan pulang ke rumah.

Di rumah, istriku masih saja terlelap. Mengendap, saya duduk di bangku kecil yang terletak di tepi ranjang. Laptop kubuka. Saya berupaya mengetik.

Tak lama, istriku menggeliat. Dia terjaga. “Aduh, Bapak! Tidur saja dulu. Nanti besok pagi dilanjutkan.”

Saya menurut, rebah di sisi istri.

Kala pagi, istriku menjelaskan jika dia ingin ke kampung bersama anak lelakiku yang akan mengikuti rapat dengan pengurus partainya. Pun, saya mengatakan: “Saya juga ikut karena ingin menjemput lukisan yang usai dipamerkan di rumah kakak di kampung.”

“Saya hanya sampai siang di kampung, Pak. Saya harus pulang karena ada kegiatan teman-temanku di kampus,” urai anak lelakiku yang beralasan: “saya janjian dengan teman-teman”.

“Tak apa, Nak. Saya akan pulang dengan mobil pick-up yang mengangkut lukisan dan esel lukisan. (Jeda) Saya akan memanggil teman untuk menemaniku,” kataku seraya meminta pula anak perempuanku ikut.

Puncak siang tiba! Anak lelakiku usai merampungkan pertemuan. Saya di rumah kakak, menunggu mobil pick-up.

“Maaf, Pak. Mobil pick-up mau digunakan ke kota untuk membeli peralatan mobil dan sekaligus mengangkut beberapa peralatan yang akan diservis,” ujar anak lelakiku di saat tiba di rumah kakak.

Saya bingung. “Bagaimana saya pulang dan mengangkat belasan lukisan dan eselnya?”

“Saya ikut di mobil pick-up. Bapak pakai saja mobil, sebab nanti sore pick-up itu pulang,” tutur anak lelakiku.

Jelang sore, kukontak seorang teman di kampung yang mahasiswa untuk membantu temanku yang perupa mengepak lukisan yang akan dinaikkan di mobil pick-up jika tiba sebelum magrib. “Sekalian, saya minta tolong juga diambilkan makanan di rumah adik perempuanku yang menyiapkan sajian kesukaanku,” pintaku lewat kontak telepon.

Magrib tiba. Lukisan dan esel lukisan tertata rapi di mobil pick-up. Temanku yang perupa ikut di mobil tersebut untuk mengarahkan lokasi pengantaran. Istriku tetap di rumah kakak karena menjaga ibu yang masih saja sakit. Anak perempuanku ingin ikut pulang.

“Saya ke kota hanya ingin menyaksikan pertunjukan seni lalu kembali ke kampung untuk menjemput istriku yang pulang esok pagi. Intinya, saya akan begadang di warung kopi menunggu pagi. Makanya, saya butuh teman untuk kuajak ke kota lalu kembali ke kampung setelah saya menonton pertunjukan seni,” kataku ke teman yang ikut membantu kami mengepak.

“Oke, Kak. Tetapi … saya berkendara sepeda motor saja,” katanya seraya menambahkan, “saya ingin singgah di daerah yang akan kita lalui.”

Saya mengernyit. “Bagaimana caranya kamu menemaniku bila kamu berkendara sepeda motor sementara saya di mobil?”

“Saya naik motor, lalu menemani Kakak pulang, esok pagi saya ikut lagi menemani Kakak mengantar istri pulang …”.

Saya menukas kecewa, “Tidak usah! Nanti kan kuusahakan pulang sendiri dengan kondisi letih.”

Temanku terdiam.

Saya dan anak perempuanku menuju kotaku.

Di perjalanan, anak perempuanku berujar, “Bapak ini seperti saja tidak pernah muda. Ini kan malam Minggu!”

Duh, saya selalu lupa bahwa setiap orang juga punya urusan yang tidak dapat diusik. “Orang mau pacaran kok diusik?” – begitu kalimat anak perempuanku lalu terdiam di jok kiri depan, menemaniku menyetir menembus malam. Dan, saya seakan diingatkan bahwa diriku sama saja dengan kebanyakan pemimpin yang selalu menyuruh stafnya ikut begadang dengannya hanya karena mereka sulit tidur.

(Makassar, 31 Agustus 2014)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: