Esai Malu (104) >

Esai Malu (104) >

Undangan menghadiri upacara hari proklamasi, perkenalan dengan petugas paskibraka, penurunan bendera, hingga ramah tamah, kutepis. Padahal, hampir setiap tahun saya hadir di gubernuran, khususnya malam ramah tamah. Saya memilih berkutat di rumah. Pasalnya, semalam saya mengundang dua-tiga teman perupa untuk datang ke rumahku: mengasup cumi-cumi goreng, mengambil lukisan karya mereka untuk dipamerkan di tempat lain, maupun yang menginginkan obat herbal.

Pagi hampir habis, belum ada teman yang datang hingga akhirnya seorang perupa muncul. Saya kemudian mengajaknya makan, menyantap telur ikan, cumi-cumi goreng, dan bakwan udang. Dan, kami makan sangat lahap, terlebih saya yang sengaja menahan diri menyarap karena ingin makan bersama teman-teman.

“Maaf, saya tidak bisa lama menerima tamu. Sebelum siang, saya harus ke kampung mengantar istri,” kataku sekenanya.

Temanku mafhum.

“Ma, tolong bungkuskan kelebihan cumi-cumi, telur ikan, dan udang rebus yang ada di kulkas,” ujarku setelah mengira teman lain tak muncul lagi karena siang kian mendekat.

Ternyata, setelah beragam kelebihan makanan kubungkuskan buat temanku yang seorang diri muncul sebelum siang, dua-tiga teman lain muncul. Malah, disusul lagi empat orang teman. Namun, bukan masalah karena istriku selalu menyiapkan beragam makanan di kulkas untuk kondisi mendadak maupun darurat – termasuk masih menyimpan cumi-cumi dan udang.

Mestinya, saya meninggalkan rumah di kala matahari di puncak. Namun, tubuhku sangat letih setelah sebelumnya pulang dini hari dilanjutkan mengetik hingga subuh, lalu bangun di pagi hari dengan ‘berbekal’ tidur tak sampai dua jam. Saya harus menyiapkan makanan buat tetamu yang bakal datang. Itu sebabnya, saya berupaya rehat sejenak sebelum ke kampung.

“Jangan sampai kita kemalaman ke kampung karena mestinya kemarin saya menjaga Ibu …”.

Saya tak melanjutkan rehat. Pun, saya segera melarikan mobil ke kampung sebelum asar. Toh, saya tidak ingin istriku kecewa dan merasa bersalah dikarenakan telat menjaga ibu yang empat tahun terakhir ini sakit dan dirawat di rumah kakak.

Di kampung, setelah saya mengantar istri, saya mengajak anak perempuanku ke warung kopi. Saya ingin mengetik seraya berselancar di dunia maya dan menyeruput seduhan kopi. Namun, magrib belum jua tiba, anak perempuanku tersadar: “Pak, malam ini pesta nikah temanku, pesta yang ingin kuhadiri sehingga saya meminta Bapak membelikanku pakaian pesta di Jogja belum lama ini.”

“Saya bisa meminta tolong ke teman untuk mengantarmu kembali ke kota …”.

“Bapak juga diundang. Yang menikah, mahasiswinya Bapak,” ujar anak perempuanku.

Saya kembali ke rumah secara tergesa-gesa. Seorang teman kuajak untuk menyetir.

“Saya tidak boleh bermalam karena besok pagi, ada kegiatan yang harus kuhadiri,” kata teman yang kerap menemaniku pulang jika kondisi tubuhku agak tidak sehat.

“Sebelum subuh kita kembali ke kampung. Saya harus menjemput istriku,” jawabku.

Saat pamit ke ibu untuk pulang ke kotaku, kukatakan jika saya harus berada di rumah karena anak lelakiku – cucu yang terbilang dia sayang – akan pulang sebelum tengah malam dari perjalanan yang jauh dari lokus pembuatan kapal pinisi.

Setelah menghadiri pesta, saya mengajak anak perempuan dan temanku ke anjungan pantai, tempat perupa berkumpul. Kedatanganku, ingin pula menanyakan bagaimana kondisi dan situasi di saat lukisanku pada kegiatan “melukis bersama di kanvas 200 meter”, dirusak oleh anak-anak jalanan. Pun, saya kemudian mengaveling satu ruang yang masih kosong. “Besok, saya datang untuk melukis lagi.”

Tengah malam, saya pulang ke rumah setelah singgah di warung sate sapi. Saya terbiasa mengajak teman makan, apalagi dia belum makan dikarenakan hanya saya dan anak perempuanku yang masuk ke lokasi pesta lalu makan. Pun, saya tidak langsung tidur. Saya mengetik hingga dua jam berlalu dari puncak malam.

Belum subuh, temanku membangunkan diriku yang terlelap.

Saya mengajak anak perempuanku ikut, tetapi dia tampik karena keletihan. Begitu pula anak lelakiku, berujar “saya masih butuh istirahat”. Akhirnya, saya hanya berdua teman ke kampung. Dan, di perjalanan agar temanku tidak mengantuk di saat menyetir, saya mengajaknya berbincang.

Di kampung, saya dan temanku menepi di warung kopi yang dilengkapi beragam kue dan penganan tradisional. Namun, saya tak boleh berlama-lama. Saya harus menjemput istri di saat matahari belum terbit agar tidak telat tiba di kantornya.

Kala kembali tiba di rumah, di saat baru saja saya menjatuhkan tubuh di ranjang untuk menikmati tidur karena pukul 13.00 Wita, saya bakal membawakan materi tentang metode penulisan karya ilmiah populer, telepon selulerku berdering. Kuangkat.

Di seberang sana, ketua panitia kegiatan bimbingan teknik menulis, berujar penuh harap: “Bisakah, Bapak tampil lebih dahulu di pagi ini sekitar pukul 08.00 Wita karena pemateri yang mestinya pagi, meminta dipindahkan ke siang hari …”.

Saya mengiyakan. Padahal, tubuhku sangat letih! Dan, saya kemudian menghambur ke kamar mandi, bersiap menembus keruwetan lalu lintas kota. Hanya saja, saya tak pernah mengira jika di ruangan pelatihan menulis, pendingin ruangan tidak berfungsi. Sungguh, saya kepanasan bagai berada di ruang sauna gratis – saya membawakan materi hingga pukul 12.30 Wita.

Tubuhku terasa hancur. Pun, saya mengajak anak perempuanku ke gedung kesenian untuk beristirahat. “Kita tidak boleh langsung pulang, karena nanti sore ada pembukaan pameran lukisan di anjungan pantai, dan … saya yang akan membuka secara resmi seraya memberi kata sambutan,” kataku.

Di tengah perjalanan, seorang kepala dinas mengundangku bertandang ke ruang kerjanya. Dia ingin membayar pembelian buku yang belum dilunasi, sekaligus mengajakku berbincang.

Saya tersenyum kala memperlihatkan dua amplop ke anak perempuanku setelah dua pertemuan kutuntaskan. Ada honor memberikan materi penulisan dan juga hasil penjualan buku. “Lumayan, kita bisa pesta,” ujarku.

Kala melintas di anjungan pantai, saya menepi setelah kulihat dua teman sedang menyiapkan karyanya untuk dipamerkan.

“Mengapa masih sedikit karya yang dipajang? Kan, pembukaan pameran tidak lama lagi,” ujarku saat berada di ruang pamer.

“Pembukaannya nanti malam, Kak.” Seorang perupa memberiku informasi yang telat kuketahui karena sejak pagi, saya belum membuka dunia maya – informasi kegiatan perupa selalu diberikan lewat dunia maya.

Tiba-tiba … mataku tertumbuk pada gerobak bakso. Kupanggil. Kuasup seraya mengajak kedua teman perupa yang akan berpameran untuk ikut menikmati bakso yang disambut penolakan oleh anak perempuanku dengan kata “jelek”. Namun, saya tetap mengasupnya seakan nikmat, padahal sebelumnya saya makan siang di hotel yang menjadi tempat kegiatan bimbingan teknik penulisan.

Masih sore, setelah saya melukis di salah satu kanvas kosong yang kusiapkan malamnya, saya mengajak tiga perupa ke pelelangan ikan untuk menyantap sajian ikan bakar dan telur ikan. Kami makan begitu lahap dan terkesan rakus. Duh, saya sungguh kekenyangan.

Malam di anjungan pantai, pameran dibuka. Sajian nasi ketan dan opor ayam serta beragam kue, tersaji. Akan tetapi, saya tak bisa berlama-lama. Sejak sore, tubuhku agak limbung. Leherku menegang. Walau seorang teman memijatiku, kepalaku tetap puyeng.

Saat tiba di depan rumah, anak perempuanku turun dari mobil. Saya langsung mengajak istriku ke UGD rumah sakit terdekat. “Ma, saya harus ke rumah sakit. Saya tak mampu menahan sakit.”

Dan … malam itu: saya tumbang! Saya tersadar bahwa diriku bukan hero. Bukan herbalis yang patut dicontohi. Saya tak mampu melawan usia yang kian menua dan merapuh!

(Makassar, 19 Agustus 2014)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: