Esai Malu (98) >

Esai Malu (98) >

Tiket di tangan. Harus transit di Cengkareng sebelum terbang ke Makassar. Itu sebabnya, saya membatasi bawaan agar tidak tersiksa. “Tak boleh banyak oleh-oleh yang mesti kubawa. Saya tidak boleh letih oleh beban” – pikirku.

Masih sangat pagi, kubeli salak pondoh lima kilogram. Harganya sangat murah: Rp 9.000 per kilogram. Namun, saya tak boleh membeli terlalu banyak karena berat. Padahal, salak pondoh adalah salah satu buah kesayangan istriku.

Belum siang, saya ke warung ayam goreng kremes yang dipesan oleh anak lelakiku, lalu ke toko batik untuk membelikan oleh-oleh buat beberapa teman dan kerabat yang memesan padaku. Tanpa sadar, saya menarik berlembar-lembar pakaian hingga kedua tanganku seakan tak mampu menenteng.

“Jam berapa saya kembali menjemput Abang,” ujar seorang teman yang menemaniku berbelanja sejak pagi.

“Saya ke bandara sebelum pukul 14.00 WIB,” tegasku.

Kala matahari baru saja berpindah dari poros tertinggi, seorang teman dari percetakan, membantuku mengepak barang ke satu kardus. Semua pakaian yang kubawa serta beragam belanjaan, kusesakkan ke satu kardus – termasuk empat ekor ayam goreng dengan sambalnya yang terbilang berat.

“Pakaian buat istri dan anak perempuanku, kutenteng saja. Saya akan menyatukan di ransel. Jadi, saya akan memanggul ransel, tas laptop, dan salak yang rapi di dalam besek,” kataku.

“Bagaimana dengan buku serta kentongan raksasa ini,” kata temanku mengingatkan akan kentongan guruku yang kupinta di saat menghadiri peringatan satu tahun kematiannya.

“Simpan saja. Nanti, kamu kirim lewat laut bersama buku-buku hasil cetakan yang kupesan,” tuturku.

Ternyata, sebungkus kerupuk kering dan botol air obatku tak sempat masuk di kardus maupun ransel. Duh, saya terpaksa menentengnya dalam kantongan kertas.

Ketika tiba di bandara, saya antre di pengepakan pelastik. Saya berniat membungkus kardus dan besek berisi salak, disatukan agar mudah saya masukkan sebagai bagasi sehingga saya tak perlu menenteng di bandara tempatku transit karena janjian dengan seorang teman lama – ingin berbincang seraya mengasup seduhan kopi di bandara.

Saya tersenyum. Tak ada lagi gangguan di tanganku selain kantong kertas berisi kerupuk dan botol air. Di leherku tergantung tas berisi laptop, dan di punggungku: ransel yang lumayan berat.

Saat berdiri di loket chek in, saya ternganga. Beban bagasiku kelebihan, empat kilogram lebih. “Wah, saya tak mungkin lagi mengeluarkan besek berisi salak karena telah disatukan dengan kardus. Padahal, betapa mudah besek itu kutenteng” – pikirku agak menyesal.

“Silakan bayar kelebihan bagasi di sudut ruangan …,” petugas chek in mengingatkanku agar segera melunasi biaya kelebihan beban.

“Berapa per kilogram, Mbak?” Saya bingung karena sangat mahal.

“Rp 30.000 per kilogram belum termasuk pajak …”.

Saya ternganga. Sungguh, saya lupa jika biaya beban itu kian besar dari biasanya bila saya terbang ke Makassar dari Jogja, karena kali ini saya harus transit.

Sangat lesu, saya melunasi “salak termahal”. Toh, andai salak itu kutenteng maka saya tak perlu membayar kelebihan beban bagasi yang dibatasi hanya sampai 15 kilogram.

Pesawat delay lebih dari dua jam. Padahal, saya berencana berbincang agak lama dengan teman lama yang kukenal sejak kuliah di Makassar hingga satu kantor di penerbitan di Makassar dan Jakarta.

“Saya sudah di bandara.”

“Maaf, pesawatku belum terbang.”

Waktu sangat kasip. Tak sampai satu jam, saya harus berada di ruang tunggu untuk boarding. Saya kemudian mempercepat langkah menemui teman yang setia menunggu di sebuah restoran yang berada di sisi kanan pintu keluar kedatangan.

“Maaf, saya tak punya banyak waktu,” kataku.

“Yang penting, kita bertemu sebelum saya ke Amerika mengantar anakku yang bakal sekolah di sana pekan depan,” sambutnya.

Saya langsung memesan somai dan sebotol air kemasan. “Saya lapar!”

Temanku tersenyum. Dia menatapi wajahku yang bagai orang kelaparan yang baru bertemu makanan.

“Sepertinya, kita tak punya banyak waktu untuk berbincang. Padahal, saya sangat ingin membicarakan sikap media massa yang memihak pada capres-cawapres tertentu termasuk teman-teman kita yang jurnalis. (Jeda) Intinya, saya hanya ingin mengatakan bahwa pemihakan yang cenderung menyerang dan tidak normatif lagi, akan memberangus kepercayaan ke mereka oleh orang-orang yang memihak pada capres-cawapres lain,” kataku sebelum temanku pamit dan saya akan memasuki ruang tunggu yang terbilang jauh ditempuh dengan berjalan kaki.

Temanku terdiam. Tak berkomentar. Toh, dia tahu pilihanku yang berbeda dengannya.

“Janganlah persahabatan hancur karena pilihan yang berbeda. Ini hanya permainan. Tak perlu memasukkan ke hati hingga menimbulkan kebencian,” ujarku lalu pamit.

Saya segera berlari ke ruang tunggu. Sangat meletihkan. Napasku tersengal. Satu kesyukuran karena tak menenteng besek salak. Pikirku: “Berapalah nilai uang itu ketimbang tersiksaku menenteng besek salak yang beratnya lima kilogram?” Dan, benakku berkejaran pada analogi bahwa “berapa biaya untuk memulihkan kebersamaan rakyat yang dihancurkan oleh demokrasi demi memilih pemimpin?” Duh, saya tiba-tiba berangan-angan kembali ke masa silam, masa pemimpin ditentukan di ruang MPR tanpa merusak persatuan bangsa – seperti halnya saya tak perlu repot memikirkan besek salak yang saya bagasikan!

(Makassar, 13 Agustus 2014)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: