Monthly Archives: Agustus 2014

Esai Malu (116) >

Esai Malu (116) > Belum larut, istriku tiba-tiba menyuruhku rehat. Awalnya, hanya berupaya membaluri salep obat ke bekas operasi dan kulit yang memerah-hitam di kaki kiriku. Namun, dia justru melarangku bekerja. “Tidur saja!” Jelang tengah malam, saya menyusup meninggalkan kamar tidur. Saya sangat ingin mengetik naskah buku, tetapi saya tidak ingin mengusik istriku yang terlelap. […]

Esai Malu (104) >

Esai Malu (104) > Undangan menghadiri upacara hari proklamasi, perkenalan dengan petugas paskibraka, penurunan bendera, hingga ramah tamah, kutepis. Padahal, hampir setiap tahun saya hadir di gubernuran, khususnya malam ramah tamah. Saya memilih berkutat di rumah. Pasalnya, semalam saya mengundang dua-tiga teman perupa untuk datang ke rumahku: mengasup cumi-cumi goreng, mengambil lukisan karya mereka untuk […]

Esai Malu (98) >

Esai Malu (98) > Tiket di tangan. Harus transit di Cengkareng sebelum terbang ke Makassar. Itu sebabnya, saya membatasi bawaan agar tidak tersiksa. “Tak boleh banyak oleh-oleh yang mesti kubawa. Saya tidak boleh letih oleh beban” – pikirku. Masih sangat pagi, kubeli salak pondoh lima kilogram. Harganya sangat murah: Rp 9.000 per kilogram. Namun, saya […]