Esai Malu (72) >

Esai Malu (72) >

Berhitung menit menuju puncak malam, saya terbangun oleh deringan hape. Seorang teman yang bekerja sebagai terapis mengabarkan jika dirinya baru saja usai menerapi, dan dia menanyakan kesiapanku: “Apakah, Bapak masih menunggu?”

Saya langsung menjawab “iya”. Pasalnya, tubuhku sangat letih setelah melewati perjalanan pesawat yang cukup meletihkan. Apalagi, kala tiba di hotel dan magrib berkumandang, saya menyantap dua mangkok bakso kegemaranku yang berada di depan pasar. Itu sebabnya, otot-ototku ikut sakit, pegal, dan kaku.

Tak jelas lagi, apakah uric acid – akrab disebut asam urat – di tubuhku kambuh, ataukah kadar gula darahku meninggi. Sebab, luka di bekas operasi gout pada mata kaki kiriku, mengeluarkan cairan sebagai pertanda kadar gula darah meninggi serta uric acid melambung. Padahal, saat akan berangkat ke Jogja dari Makassar, lukaku mengering.

Kunikmati pijatan, walau berimbang antara sadar dan terlelap. Terbilang lama. Saat kuintip penunjuk waktu di hape: pukul 01.50 WIB. Pun, kuajak temanku itu berburu gudeg sekaligus sahur dengan alasan, “Lambungku masih bersuasana Indonesia Bagian Tengah yang artinya di kotaku, pukul 03.00 Wita.”

“Bapak mau makan gudeg di mana?”

“Kita ke langganan lama. Kita ke Gudeg Jongkok,” kataku.

“Bukannya, Bapak marah ke penjualnya?”

Saya tersenyum. “Kita ke sana saja. Toh, sudah sangat lama saya tidak ke sana. Lebih dari satu tahun saya tidak merasakan gudeg nikmat itu.”

Gudeg Jongkok adalah nama yang kulabeli sendiri. Saya membujuk penjualnya agar mencetak spanduk bertuliskan “gudeg jongkok” yang terdapat di Jl Wates KM 2 itu. Tentang kemarahanku, terbilang sepele. Saya memesan lauk ayam kampung yang menjadi bagian dari gudeg – hanya ayamnya saja – untuk jatah makan 10 kali buat keluargaku di Makassar.

Saya terkaget kala menerima lauk ayam yang dihargai Rp 20.000 per potong. Potongan ayam terdiri atas dua paha dan dua dada dari seekor ayam. Saya memesan 10 ekor ayam. Pasalnya, pembicaraan saya sebelumnya memesan porsi ekor.

“Mana kepala, leher, rempela, hati, dan kakinya” – tanyaku bernada heran.

Temanku yang juga guru teaterku, langsung protes. “Satu porsi gudeg pakai ayam, kan Rp 20.000. Masak iya … harga ayamnya sama dengan satu porsi gudeg istimewa?” Dan, malam itu … sahabatku itu berjanji dan bersumpah untuk tidak lagi ingin menginjakkan kaki di warung gudeg tersebut. Janji yang terlaksana karena lima bulan berikutnya, guruku itu wafat karena sakit.

Kemarahan guruku itu juga beralasan. Suatu malam, sang guru memintaku membantu si pemilik warung yang dililit persoalan keuangan setelah iparnya wafat dan habis-habisan membiayai. “Berilah dia modal agar kita tetap punya tempat makan yang kamu gemari,” katanya saat itu. Permintaan yang kiiyakan tanpa pernah kutagih walau si penjual gudeg itu merekennya sebagai utang.

Temanku yang terapis ternyata masih saja membujukku agar tidak ke tempat penjualan gudeg. “Tunggulah di kamar, Pak. Biarlah saya yang ke sana. (Jeda) Cuaca sangat dingin. Kabarnya, Jogja terkena dampak topan Rammasun dari Filipina. Sudah tiga hari, Jogja sangat dingin.”

Saya tertawa. “Jika ada cuaca buruk dari Filipina, mestinya di kotaku yang ikut terkena imbasnya sebab lebih dekat dengan negeri tetangga itu. Tak apalah, saya tahan dingin. Tubuhku sangat hangat, dan tahan cuaca dingin walau saya tak memakai baju.”

Temanku tak protes.

Saya kemudian memakai kaus pendek, celana pendek renang, dan jarik kulilitkan di leher. “Ayo, kita jalan. Hanya saja, saya merasa kikuk karena penjual gudeg itu pasti tahu jika saya marah padanya. Toh, mestinya dia yang kikuk karena belum pernah bayar utang. Dan, saya sangat ingin melihat bagaimana tingkahnya meminta maaf padaku.”

Perjalanan hanya berkisar empat kilometer. Namun, saya merasa sangat jauh. Kedua kakiku menggigil. Dingin menyusup ke leher. Kedua tangan hingga ke pundak, tesergap dingin yang tak ketolongan. Sungguh, saya tak kuat gigil.

Ketika tiba di penjualan gudeg, saya segera duduk lesehan. Saya beku tanpa kata.

Istri si pemilik usaha, sibuk meladeni pembeli.

Si penjual gudeg muncul setelah mencuci piring di tepi jalan, bersimpuh di dekat istrinya. Dia sempat membalikkan tubuh ke temanku seraya menyapa. Dia tidak menyapaku. Tidak melirikku. Dan, dia terlihat kaget saat menyodorkan segelas teh manis di hadapanku.

“Sepertinya, kebiasaanku tak lagi diingat. Saya hanya minum air putih,” kataku tanpa senyum. Ucapan yang datar dan dingin.

“Oh, iya … sudah sangat lama Bapak tidak ke sini. Satu tahun lebih. Sebelum Pak Tua wafat …”.

“Iya. Tak lama lagi, kematian beliau satu tahun diperingati, setelah Lebaran,” ujarku dengan tetap datar.

Saya dan temanku menyantap sajian. Memang sangat nikmat. Kuakui, inilah gudeg ternikmat di Jogja. Hanya saja, jam bukanya terbilang aneh, yakni pukul 00.30 hingga 03.30 WIB. Itu sebabnya, saya tidak malu-malu menambah satu porsi nasi.

Saya tak berlama-lama. Saya tetap tidak mengajaknya berbincang seperti dulu bila saya ke warung gudegnya. Saya segera pamit setelah membayar.

Di perjalanan pulang, temanku yang mengemudi sepeda motornya, berujar: “Harganya tetap aneh! Mana ada satu porsi dengan harga gila? Itu kan karena mereka melihat Bapak sangat baik.”

Saya tertegun di sadel belakang. Harapku bila si penjual gudeg salah tingkah, ternyata saya yang kikuk. Saya malah yang terkesan bersalah. Saya kalah! Toh, kebaikan seseorang memang kadang disalahartikan sebagai kewajiban untuk membantu mereka yang hidupnya lebih susah. Malah, tak jarang … ada saja orang yang merasa dirinya miskin, menjadikan orang-orang kaya harus membantu mereka sesuai pendapat bahwa harta orang kaya adalah juga milik mereka. Duh!

(Yogyakarta, 18 Juli 2014)

Iklan
%d blogger menyukai ini: