Esai Malu (67) >

Esai Malu (67) >

Saya ketiduran dari subuh hingga pukul 09.10 Wita. Padahal, saya harus ke tengah kota – saya diberi waktu oleh wali kota untuk membahas pembuatan buku kumpulan esai dari salah seorang sahabat, di rumah pribadinya pada pukul 10.00 Wita. Duh, saya sungguh telat.

Anak perempuanku yang berniat ikut menumpang, kuturunkan di tepi jalan protokol. “Maaf, Nak. Saya harus berkendara lewat jalan tol. Saya sangat telat.”

Temanku yang penulis esai kukontak. Kukabarkan jika diriku telat. Dan, dia sudah berada di dekat rumah yang kami tuju.

Kala tiba di rumah pribadi wali kota, tak ada kegiatan berarti selain pekerja bangunan yang sibuk menggergaji marmer berukuran dua meter kali satu meter. Temanku memarkir agak jauh.

Tiga lelaki yang berpenampilan penjaga rumah – bukan polisi pamong praja – menyambut dengan pernyataan: “Pak Wali tak ada. Mungkin di rumah jabatan, mungkin juga di rumahnya yang lain.”

Saya tersenyum. Kusodorkan hape. Kuperlihatkan pesan singkat dari wali kota yang memintaku menemuinya di rumah yang kudatangi.

Saya segera mengirim pesan, kukabarkan wali kota bila saya dan temanku berada di rumahnya sesuai janji.

“Maaf, saya lupa jika ada acara pagi ini. Tunggulah, saya segera ke sana”.

Satu jam sebelum matahari di puncak tertinggi, tuan rumah muncul. Kami bertemu di ruang tamu yang berada di lantai dua. Dan, kami kemudian berdiskusi tentang sastra dan budaya.

“Saya sangat senang bisa bertemu dengan kalian. Saya bisa menumpahkan pikiranku tentang kebudayaan,” kata wali kota yang kusambut dengan beragam kritik akan kondisi kota.

Hanya saja, diskusi kami selalu terkendala oleh deringan hape wali kota.

“Maaf, semua urusan orang sekonyong-konyong menjadi urusan saya. Apalagi, kini masa pendaftaran anak-anak sekolah. Ya, banyak orang tua yang meneleponku lalu meminta anaknya diuruskan masuk ke sekolah yang diinginkan,” ujarnya seraya menambahkan, “saya juga kerap ditelepon untuk urusan istri yang hamil. (Jeda) Saya kadang berpikir, bukan saya yang hamili tetapi saya yang harus sibuk. Beginilah, saya seakan tiada henti mengurusi rakyat yang mendukung saya menjadi wali kota.”

Saya tertawa.

Temanku tertawa.

Ketika matahari di puncak tertinggi, saya mengajak temanku pamit. Pasalnya, saya masih harus menemui seorang wartawan senior yang merupakan mantan pengurus organisasi pers – saya janjian untuk meminjam buku karyanya tentang kehidupan pers di provinsiku sejak era perjuangan kemerdekaan hingga tahun 1999. Saya akan menjadikan buku itu sebagai salah satu referensi penulisan buku yang akan kukerjakan.

Saya tak lama di rumah jurnalis berusia tua itu. Alasanku: “Saya masih harus mendatangi sumber lain.”

Kala di perjalanan pulang, saya kontak anak perempuanku yang berada di kampus.

“Saya masih ada kegiatan, Pak. Nanti saja, saya pulang dengan temanku yang ingin ikut ke rumah.”

Saya kemudian membelokkan mobil ke rumah temanku yang penulis esai – saya berniat mengajaknya melanjutkan diskusi sesuai materi yang disarankan wali kota. Akan tetapi, rumahnya terkunci. Duh, saya lupa jika temanku dan keluarganya punya aktivitas harian sebagai pekerja pers, mengurusi kampus, dan juga sekolah.

Pulang saja ke rumah – batinku.

Tiba-tiba, hape-ku berdering. Anak perempuanku meminta dijemput.

Saya kemudian berusaha berbelok arah. Namun … saat saya melewati gedung persatuan wartawan – saya lebih sepakat terlabeli Balai Wartawan seperti nama sebelumnya, sebelum pindah – iring-iringan pembawa jenazah singgah. Saya segera mengontak teman jurnalis yang merupakan pengurus organisasi pers.

“Siapa yang wafat dan jenazahnya dibawa ke gedung wartawan?”

Temanku menjelaskan jika yang wafat adalah teman baikku kala kami bekerja di dua media. Pun, saya berputar haluan agar bisa melihat upacara pelepasan jenazah kawan yang kukenal sangat rajin ke gereja, pelepasan sebagai jurnalis.

Saya terengah-engah menaiki tangga ke lantai dua. Namun, kakiku terhenti di pintu. Di tengah ruangan, peti jenazah berbungkus kain bendera organisasi wartawan. Di dua sisi, puluhan orang duduk tanpa kata. Di dekat pengantar jenazah, berjejer piring, air minum, dan peralatan makan lainnya.

“Wah, saya tidak boleh ikut melepas jenazah karena saya puasa,” batinku. Dan, saya tetap saja berdiri di pintu.

Tiga-empat-tujuh teman mengajakku masuk.

Saya bergeming.

Teman-temanku tetap memintaku masuk.

Akhirnya, saya melangkahkan kaki lalu duduk di deretan pengantar jenazah.

“Maaf, saya puasa,” kataku pelan ke seorang teman.

“Kami juga puasa.”

“Tetapi … kenapa ada banyak makanan yang tersaji? Adakah tetamu dijamu?” Saya masih bingung.

Temanku tersenyum. “Peralatan makan dan minuman itu, disiapkan untuk buka puasa nanti magrib.”

Duh, saya hanya mampu menggigit bibir bagian dalam karena kikuk. Malah, saya tetap saja merasa bego karena selalu lupa jika saya pernah bekerja sebagai jurnalis, pekerjaan yang mestinya tahu akan beragam suasana. Dan, saya seperti menemukan diri sebagai orang yang pikun lalu tersadar kala diingatkan oleh orang lain – seperti kala saya terkesan bego di depan wali kota yang ‘menceramahiku’ tentang budaya etnisku!

(Pangkep, 13 Juli 2014)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: