Esai Malu (52) >

Esai Malu (52) >

Jumat di pengujung syakban. Saya berencana mengantar 500 eksemplar dari dua judul buku karya pribadi orang nomor satu di provinsiku yang telah kucetak. Harapanku: ada biaya hidup menghadapi ramadan. Lagipula, buku itu dipesan dua pekan sebelumnya.

Masih terbilang pagi, kugedor pintu tetangga yang memegang kunci rumah yang kutempati menyimpan beragam barang karena tiga ruangan di rumahku kukosongkan untuk kebutuhan pameran seni rupa rumahan yang masih saja menyisakan banyak lukisan terpajang di tembok. Saya ingin mengangkat semua kardus yang berisi buku. Saya akan membongkar lalu memilah buku yang akan kujajakan.

Ketika saya sibuk menghitung jumlah buku yang akan kubawa ke pemesan, seorang teman perupa muncul dengan istrinya yang langsung berujar: “Masih ada bawang lanang?”

Saya tersenyum lalu menyodorkan racikan bawang tunggal atau juga disebut bawang lanang yang kurendam di botol berisi madu Arab lebih dari satu bulan. Khasiatnya memang dahsyat untuk memperbaiki aliran darah ke jantung, hipertensi, dan vitalitas.

Sebelum temanku yang belum cukup lima bulan menikah itu pulang, saya menyilakan menyarap di meja makan dekat dapur. “Saya sudah siapkan masakan. Maaf, jika tidak istimewa karena seadanya saja.” Dan, saya ikut duduk mengitari meja makan walau sebelumnya saya menyarap dengan istri dan anak lelakiku.

“Makan, Sayang …” – si istri menyendokkan dua butir bakso ke piring suaminya.

Si suami tersenyum riang.

Setiap saat, wanita berbahagia itu menyapa suaminya dengan “sayang” yang terdengar syahdu dan penuh muatan cinta yang dahsyat. Pun, saya tertegun lama. Kata itu tidak sekadar diucapkan, tetapi terasa memiliki kekuatan dari nurani terdalam. Apalagi, kata itu diucapkan dengan tatapan mata yang tak berkedip diiringi senyum.

Kenangan masa silamku bertabur. Kuteringat bagaimana nyaris tiada hari tanpa kata cinta dan penyerahan kasih. Kalau pun ada yang tersisa, hanyalah ucapan “sayang” ke istri yang seperti “mesin” yang terkontrol oleh program komputer. Hanya kata. Tak ada lagi kedahsyatan magis dari makna kata itu. Duh, terasa air mataku akan tumpah. Saya tak mampu berada di depan temanku dan istrinya yang asyik-masyuk dengan cinta yang tidak dibuat-buat. Bukan akting seperti saya yang setiap saat berupaya membangun kembali apa yang pernah kami miliki, cinta yang tak pernah lekang dari istri kepadaku.

Tiba-tiba … saya teringat pertanyaan dari anak lelakiku, satu hari sebelumnya. “Bapak, bagaimana kita mendapatkan calon istri yang sempurna?”

Saat itu, kujawab: “Tidak akan pernah, Nak. Tak ada wanita yang sempurna. Kitalah yang membuatnya sempurna. Hanya saja, makin lama usia pernikahan, wanita malah kian jauh dari kesempurnaan menurut kita yang lelaki karena kita makin menambah muatan sempurna ke istri.”

Jelang Jumat di puncak, kularikan mobil ke kantor gubernur. Saya langsung merangsek ke masjid. Dan, baru saja saya duduk di selasar lalu memandang ke arah masuk, gubernur disertai rombongan pejabat berjalan menuju pintu masjid. Saya berdiri lalu datang menyalaminya.

“Sudah kaya, ya? Sahabatku ini sudah kaya karena tak pernah lagi menemuiku,” ujarnya seakan memberitahukan ke semua orang di sekitarnya.

Saya tersenyum. Pun, kukatakan setelah dia memintaku menemuinya bila ada waktu senggang, “Maaf, Pak Gub. Saya lebih banyak di rumah menemani istriku yang kian saya cintai.”

Gubernur tertawa. Dia seperti geli.

Hingga sore, saya berkutat dari ruangan ke ruangan pejabat di kantor gubernur. Tak ada pembahasan lain kecuali pilpres, penentuan awal puasa ramadan, dan penawaran obat herbal yang kuracik.

Sore kian pekat. Kukontak istriku agar menunggu di dekat ujung tol. “Saya akan mengantar Mama ke kampung untuk menengok Ibu.”

“Tetapi, saya tidak berniat bermalam.”

“Mengapa?”

“Saya kan mengawali puasa seperti Bapak sejak dulu, ya … mengikuti kebiasaan Bapak yang sejak kanak.”

Saya tak mendebat. Kuteringat masa awal pernikahan kami, berbeda dalam penentuan awal ramadan maupun awal syawal. Pasalnya, saya dibesarkan di kultur NU, istriku pada kultur Muhammadiyah. Namun, akhirnya dia mengalah dan ikut pada kulturku. Walau, kerap kami kikuk bila menginap di rumah ayah-ibunya di saat akan mengakhiri ramadan.

Anak perempuanku juga kukontak. “Siapkan pakaian untuk Mama dan saya. Kita ketemu di dekat ujung tol. Kita ke kampung.”

Anak lelakiku kukontak telepon pula: “Saya, Mama, dan adikmu ke kampung. Nanti agak malam, saya pulang. (Jeda) Jika mau pulang agak telat, tidak ada masalah.”

Kala tiba di rumah kakak, tempat Ibu dirawat, adik bungsu istriku menjaga Ibu. Dia sendiri. Pemilik rumah pergi. Sangat sepi. Tak biasanya. Rumah yang nyaris tiada henti dikerubuni tamu, senyap karena si tuan rumah ke Jawa, dan si nyonya rumah ke pusat kota provinsiku berbelanja.

“Mama, kita pamit saja. Kan tidak nyaman bila Mama menginap karena besok penghuni rumah bakal puasa, sementara kita nanti lusa,” ujarku sekenanya.

Tak lama, adik istriku menghambur keluar kamar lalu menghilang tanpa kata. Dia membawa anak bungsunya yang berusia empat tahun.

“Wah, saya bakal tidak dapat izin. Saya harus menjaga dan menemani Mama seorang diri. Padahal, saya ingin memulai sahur bersama dengan suamiku, suami yang sangat mencintaiku!”

Saya hanya menggaruk kepala yang tidak gatal. “Biarlah saya juga tinggal. Saya tidak peduli jika semua penghuni rumah bangun untuk sahur, dan kita makan di pagi hari. Cuek saja!”

Istriku tersenyum.

Kubaringkan tubuh di musala. Dan, saya terlelap menuju malam yang mengalunkan takbir dan suasana salat tarwih di masjid yang terdekat dari rumah kakak.

Istri mencolek betisku. “Ada apa, Ma?”

“Saya kedatangan tamu. Ini untuk pertama kalinya di awal ramadan kutemukan.”

Saya menggeliat lalu meminta anak perempuanku menyiapkan pembalut untuk istriku. “Beli saja di toko terdekat, Nak. (Jeda) Jangan lama karena kita segera pulang. Biarlah Mama tinggal menjaga Nenek selama dua malam di sini.”

Malam menuju puncak. Saya meminta tolong ke teman masa kanakku untuk mengantarku pulang.

“Saya memulai puasa besok. Saya sudah siapkan sahur. Malah, saya sudah memasak karena istri dan anakku pulang ke kampungnya,” ujarnya berupaya menampik karena tahu jika saya selalu berbeda dengannya.

“Saya vertigo. Leherku menegang. Tadi, saya singgah makan nasi ketan dengan ikan asin di perjalanan ke kampung sehingga kondisi tubuhku limbung. (Jeda) Nanti kusiapkan sahur di rumah,” ujarku memelas.

Temanku bersedia menyetir. Pun, saya tumbang di jok kiri depan, dan anak perempuanku membaringkan tubuh di deretan jok tengah karena kesakitan rutin di setiap bulan – kedatangan tamu sejak dua hari, seperti istriku.

Perjalanan terasa panjang dan lama. Saya tetap menutup mata. Pun, terbayang kesendirian istri yang menjaga Ibu, dan saya sendiri di kamar. Duh, selalu saja ada jarak yang memisahkan di saat kesucian cinta mesti dirajut menuju hari tua, hari yang kian menepiskan kemampuan mengucap kata “sayang” yang sakral nan magis. Jarak yang tak pernah dicipta, bukan seperti orang-orang yang sukses meraih obsesinya lalu menjauh dari rakyat.

(Makassar, 28 Juni 2014)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: