Monthly Archives: Juni 2014

Esai Malu (52) >

Esai Malu (52) > Jumat di pengujung syakban. Saya berencana mengantar 500 eksemplar dari dua judul buku karya pribadi orang nomor satu di provinsiku yang telah kucetak. Harapanku: ada biaya hidup menghadapi ramadan. Lagipula, buku itu dipesan dua pekan sebelumnya. Masih terbilang pagi, kugedor pintu tetangga yang memegang kunci rumah yang kutempati menyimpan beragam barang […]

Esai Malu (53) >

Esai Malu (53) > Ketika tiba di rumah, saya menyempatkan diri menggoreng nasi yang kucampurkan nasi goreng yang berlebih dari warung. Mestinya, saya tak perlu repot karena di meja makan tersaji ikan goreng dari sebuah restoran ternama dan tiga buah burger yang dibeli oleh anak lelakiku, serta satu porsi mi kering yang kubawa pulang setelah […]

Esai Malu (34) >

Esai Malu (34) > “Maaf, Nak. Saya tak bisa mengikutkanmu mengantar tetamu untuk makan siang di pelelangan ikan lalu merambah berbagai lokasi bersejarah dan yang memiliki nilai budaya tinggi. (Jeda) Sungguh, saya tidak bisa mengikutkanmu karena tetamu akan berdesakan di mobil. Apalagi, ada teman perupa yang ikut dalam perjalananku dari jelang siang hingga malam” – […]

Esai Malu (29) >

Esai Malu (29) > Seorang teman mengabarkan pembukaan temu penulis berkelas internasional di kotaku yang ke-empat kalinya dilaksanakan. Saya kemudian mengajak anak perempuanku ke benteng terbesar dan terkenal, Rotterdam, yang dijadikan lokasi kegiatan. Di depan benteng, kala kuparkir mobil di antara mobil milik pengunjung kafe yang terletak di seberang jalan, seorang teman yang membawa anak-istri […]