Monthly Archives: November 2013

MALU LAGI (207):

MALU LAGI (207): Seseorang meneleponku. Suara perempuan. Sebelumnya, nomor kontaknya berkali-kali hinggap di hape-ku, tetapi tentulah tak kugubris karena aku memang tak mendengarnya. Dia menghubungi di saat aku berada di masjid mengikuti ritual Jumat, dan hape kusimpan di rumah. Pun, aku menjawabnya ketika baru saja aku masuk ke rumah seusai salat. Perempuan itu menanyakan posisi […]

MALU LAGI (206):

MALU LAGI (206): Jadwal penulisan buku terkalahkan undangan menjadi juri lomba penampilan musik tradisi dan aru atau “angngaru” yang merupakan sumpah kesetiaan di daerah yang berada di antara kota dan kampungku. Teman seni yang mengundangku sangat mafhum cara menarik minatku: “Datanglah, kami siapkan makanan kesukaanmu.” Sangat sulit aku menampik “itik manila pallu kaloa” – menu […]

MALU LAGI (205):

MALU LAGI (205): Ketika berada di Jogja, aku mengontak seorang pejabat di kampungku. “Maaf, bolehkah aku mengirim teman untuk mewawancarai, Bapak?” “Silakan, Dik. Tetapi saya masih di Lombok. Malam ini saya pulang. Pagi, saya tunggu di kantor.” Aku segera mengontak teman yang mengiyakan setuju. “Jangan lupa, besok pagi sebelum pukul 08.00 Wita,” pintaku untuk mendapatkan […]

MALU LAGI (204):

MALU LAGI (204): Masih sangat pagi, aku mengontak teman yang kerap memijatku. Semalaman, aku tumbang . Tubuhku limbung keletihan. Pangkal kaki kiriku sulit digerakkan. Namun, aku tetap saja berupaya menulis: naskah buku dan edisi ‘wajib’ ke dunia maya. Aku masih dipijat kala tersadar jika harus menjemput pesanan makanan. Kulihat jam: pukul 10.55 WIB. Pun, aku […]

MALU LAGI (203):

MALU LAGI (203): Aku sungguh kehilangan mood menuntaskan penulisan buku yang mestinya rampung sebelum akhir bulan. Beragam upaya kulakukan, tetapi tetap saja nihil. Tak satu pun sub judul yang membuatku bergairah. Upaya terakhir pun kulakukan: meminta tolong ke tiga-empat teman yang hasilnya hanya dua, menolak dan kekurangan data. Entah mengapa, aku yang biasanya tidak peduli […]

MALU LAGI (202):

MALU LAGI (202): Tahlilan 40 hari kematian anak didikku di Palembang pun usai. Aku yang memilih duduk di salah satu pojok bersama adik almarhum yang kelas enam SD dan dua anak didikku dari Jogja, berbincang beragam hal yang bentuknya bermain. Kami seakan tidak berada di kenduri duka. Lagipula, seratusan kursi yang bergeletak di depan rumah […]

MALU LAGI (201):

MALU LAGI (201): Restoran berbentuk kapal di sungai, tak jauh dari jembatan Ampera, menciptakan suasana makan malam yang menggairahkan selera. Pun, aku yang ikut dalam rombongan keluarga yang mengundangku ke Palembang, tak mampu mendorong beragam sajian. Ada udang galah, patin, gurameh, ikan mas, kepiting, hingga sup buntut sapi, namun lidahku terasa asing dengan resep masakan. […]