Monthly Archives: Oktober 2013

MALU LAGI (178):

MALU LAGI (178): Kakak temanku wafat. Aku berjanji untuk menghadiri taksiah. Tetapi, malam pertama aku keletihan dan vertigo setelah siang di kala mengantar ke pemakaman aku membiarkan kepala tersiram terik yang sangat panas. Malam kedua, aku berupaya datang walau sejak siang hingga jelang magrib berada di kampung. Pun, aku yakin bisa tiba. Hanya saja, keletihan […]

MALU LAGI (177):

MALU LAGI (177): Rapat yang tertunda tak lagi menarik perhatianku. Aku pamit pada staf yang berada di ruang pimpinan yang mestinya menjadi tempat rapat di kantor gubernur. Pun, sebelumnya aku menyempatkan diri menagih pembuatan buku karena aku tak punya uang untuk mengurus STNK mobil dan STNK sepeda motor anak lelakiku yang masa berlakunya sudah lewat […]

MALU LAGI (176):

MALU LAGI (176): Jelang tengah malam, hape-ku berdering. Nomor tak kukenal. Bunyi lagi. Tetap tak kuangkat. Kembali bunyi. Kibiarkan. Tak lagi berdering. Pun, aku gelisah: “Jangan-jangan … penting!” Dan, aku mengontak balik. “Maaf, siapa ini?” “Ah, kamu kenapakah itu nomorku tidak disimpan?” Keningku mengerut. Aku berupaya mengenali suara sebagai “kekuatan orang radio” seraya berupaya mengulur […]

MALU LAGI (175):

MALU LAGI (175): Ajudan sekretaris provinsi mengontakku agar datang ke kantor gubernur. Janji awal, pagi sebelum aktivitas kantor ramai. Hanya saja, peringatan Sumpah Pemuda membuat kesepakatan bertemu molor dua jam. Kala aku tiba, tiga ruang di lantai dua yang berada di bibir ujung tangga dipadati pejabat. “Ada kunjungan Komisi II DPR,” ujar ajudan sekprov seraya […]

MALU LAGI (174):

MALU LAGI (174): Istriku menyiapkan sarapan. Tudung saji kusingkap. Batinku: “Tak menarik!” Kutampik karena menu utamanya daging sementara kedua jempolku masih bengkak karena mengasup banyak makanan berbahan daging sapi, dan hampir sepekan aku tak patuh pada obat herbal. Aku menarik bangku plastik yang bersusun di ujung ruang yang kutempati menyimpan berbagai barang, dari sepeda, buku […]

MALU LAGI (173):

MALU LAGI (173): Kakek dan nenek finalis anak mendongeng muncul mengantar cucunya di kala masih sangat pagi untuk berlatih. Pasalnya, latihan belum jua rampung padahal jelang sore si anak berangkat ke Jakarta. Pun, sebelum pulang kupinta ketiganya ke meja makan. Dan, kuyakin: si kakek yang pernah menolak sajian yang kusiapkan lalu ‘kutegur’ bahwa aku selalu […]

MALU LAGI (172):

MALU LAGI (172): Istriku menanak nasi. Tiga potong ayam goreng siap saji yang kubeli semalam di tengah perjalanan, dia keluarkan dari kulkas. Dua burger ayam dan martabak telur dia panasi di microwave. Menu “toppalada” daging sapi yang mirip semur, melengkapi bekal sarapan yang tertata di meja makan. Matahari belum jua muncul. Aku berusaha mengetik. Di […]