Monthly Archives: September 2013

MALU LAGI (135):

MALU LAGI (135): Tahlilan peringatan 40 hari kematian guruku baru saja usai. Tiga-empat kelompok menepi lalu membahas beragam hal. Pun, aku duduk bersila di samping istri almarhum. Dia mengisahkan hari-hari terakhir orang yang kuidolakan. Tetamu telah lama pulang. Aku masih berusaha bertahan bersama seorang teman. Tersisa istri almarhum dan kakak perempuannya, serta sahabat guruku seperti […]

MALU LAGI (133):

MALU LAGI (133): Mestinya aku langsung ke kampung setelah mendapat kabar duka akan kematian ayah ponakan. Namun, setelah mendapat info bila pemakaman dilaksanakan setelah salat asar, aku berupaya menuntaskan dua-tiga urusan di tengah kota. Malah, aku berupaya ke toko komputer untuk menginstal program audio rekaman. Jelang siang, aku menyempatkan diri ke sebuah lokasi kegiatan untuk […]

MALU LAGI (134):

MALU LAGI (134): Matahari belum muncul. Masih suasana subuh. Aku menyiapkan sarapan seraya memilih pakaian yang akan kubawa ke Yogyakarta. Agenda pagi sampai siang sudah tertata: menemui pejabat yang memesan buku di rumahnya sangat pagi, mencari kabel ‘jantan’ yang umum menyebutnya kabel audio, pentas membacakan orasi kebudayaan di suatu kegiatan nasional, lalu ke bandara. Itu […]

MALU LAGI (132):

MALU LAGI (132): Sore baru saja beranjak menuju magrib. Teman jurnalis dari Jakarta yang meliput gastronomi menelepon agar dicarikan orang yang masih memegang teguh adat etnikku dalam tata cara makan. Pun, kutunjukkan alamat di tengah kota. Dan, aku mengajak istri serta anak perempuanku segera ke alamat dimaksud. Aku melangkah ke rumah yang bakal diliput – […]

MALU LAGI (131):

MALU LAGI (131): Inginku mengetik di warung kopi yang menyiapkan fasilitas Wi-Fi terkendala letih. Masih terbilang sore, isya baru saja berlalu, aku terlelap seorang diri di kamar – istri dan anak lelakiku ke kampung. Tersisa satu jam menuju subuh, aku terbangun lalu bergegas ke warkop yang buka 24 jam: aku berupaya mengirim seratusan foto ke […]

MALU LAGI (125):

MALU LAGI (125): Hari yang meletihkan! Pun, aku berusaha bangun untuk mengetik sebelum subuh. Namun, tubuhku oleng. Vertigo menyerang. Kucoba tetap membuka laptop. Pandangan mengabur. Kuberusaha mengasup rebusan secang, tetapi tak ada lagi yang tersisa. Tandas. “Adakah tubuhku membutuhkan istirahat? Tidakkah aku baru saja tidur lebih dari tiga jam? Toh, setiap hari aku hanya membutuhkan […]

MALU LAGI (126):

MALU LAGI (126): Tanteku dari Mataram mengabarkan jika akan bertandang ke rumahku di pagi hari. Alamat pun kuberikan setelah tahu jika rumah yang dia tumpangi ternyata hanya berjarak 500-an meter dari rumahku. Hanya saja, aku sudah berjanji pula ke teman yang datang dari Yogyakarta untuk mengajaknya makan di pelelangan ikan. Kala mobil baru saja kularikan, […]