Monthly Archives: Agustus 2013

MALU LAGI (115):

MALU LAGI (115): Aku masih letih melawan rayap dan laron sepanjang malam. Hingga jelang subuh, aku hanya dapat menyapu bangkai-bangkai laron dan juga rayap yang bertaburan di ranjang. Pun, aku mengaku kalah lalu menidurkan diri di lantai bersama sisa bangkai laron. Adapun kedua anakku terlelap di lantai dua yang aman dari serbuan rayap, istriku memilih […]

MALU LAGI (113):

MALU LAGI (113): Aku menampik semua kegiatan di luar rumah kecuali janji untuk bertemu dengan salah satu tokoh penting di provinsiku. Malah keinginan bertemu yang dilontarkan lewat kontak telepon oleh seorang kepala dinas provinsi, kupertegas jika diriku sangat sibuk. Pasalnya, orang yang ingin kutemui ini adalah wanita pejuang pendidikan dan pelopor kedokteran gigi. Awalnya kupikir, […]

MALU LAGI (110):

MALU LAGI (110): Aku harus meninggalkan seorang teman yang ingin ikut ke pulau karena kapal motor yang akan memberangkatkan penumpang agak cepat dari waktu semula yang direncanakan. Pasalnya, air segera surut di muara sungai jelang siang karena pendangkalan akan menyulitkan kapal motor yang mengangkut 70-an penumpang melaju, malah tidak bergerak. Saat kapal motor mulai bergerak […]

MALU LAGI (112):

MALU LAGI (112): “Bapak mau meninggalkan banyak orang yang mencintai Bapak dengan tulus?” Istriku seperti memekik saat tiba di rumah sepulang kerja dan menemuiku teronggok lesu di ranjang. Pasalnya, aku langsung mengabarkan jika saat perjalanan pulang dari kampung menuju kotaku, aku sangat mengantuk dan nyaris menabrak trotoar dan truk maupun kendaraan lain. Setidaknya, tujuh kali […]

MALU LAGI (111):

MALU LAGI (111): Tubuhku sangat letih. Perjalanan ke pulau ibu kota kecamatan terdekat di daratan lalu melanjutkan perjalanan untuk menikmati pulau tak berpenghuni, menguras tenaga. Maka ketika tiba di rumah teman yang menampung diriku beserta rombongan, aku tumbang. Aku malah tertidur di teras rumah hingga terbangun untuk mengetik. Belum lama laptop kunyalakan, baru satu alinea […]

MALU LAGI (109):

MALU LAGI (109): Seraya mengetik, sesekali jemariku menjemput buah nangka di piring hingga tak terasa habis. Kala istriku minta, dia hanya menggeleng kala kutunjukkan piring yang berisi biji nangka dan kulitnya. Toh, pagiku tidak nikmat. Mengasup buah nangka saat jelang tengah malam itu, membuat otot serba kaku dan peredaran darah tidak lancar saat aku bangun […]

MALU LAGI (108):

MALU LAGI (108): Istriku sangat pagi ke kantornya. Aku dan anak lelaki serta anak perempuanku menghadapi meja makan tanpa banyak cincong. Aku lebih memilih diam, mengunyah beragam makanan yang sebelumnya kupanasi. Pun, kami menyarap seakan syahdu tanpa kata. Pintu terketuk. Anak lelakiku melompat, membuka pintu. Dia menyilakan tamu masuk. “Ajak tamu makan, Nak,” ujarku kala […]