Monthly Archives: Juli 2013

MALU LAGI (86):

MALU LAGI (86): Aku diprotes Ketua RW dan beberapa tetangga seusai mengikuti taksiah atas wafatnya suami dari Ketua RT-ku. “Kalau kami tahu jika ada udang, ikan segar, dan beragam makanan enak, kami datang ke rumah, Bapak. Kan hanya ditanya, apa sudah sahur? Andai bilang ada makanan enak, kami pasti muncul. Kami tahu setelah sore, ada […]

MALU LAGI (85):

MALU LAGI (85): Usai buka puasa di rumah kakak di kampung, aku melajukan mobil menuju kotaku. Rencana: menghadiri kenduri seni berupa zikir puisi yang dilakukan sebuah sanggar seni. Aku memang harus hadir karena masuk dalam daftar membacakan karya sastra. Padahal, saat akan pulang, kakak istriku menaikkan beragam makanan dan juga ikan segar di mobil. Usai […]

MALU LAGI (84):

MALU LAGI (84): Anak tertua dari adik bungsuku terjatuh di polisi tidur perumahannya. Dia mengerem cakram depan saat kaget karena ada tali melintang. Laju sepeda motor tidak terbilang kencang. Hanya saja, saat terjatuh: ujung setir menohok perutnya sangat keras. Saat tiba di rumah sakit swasta ternama, dokter jaga menyebut “cito” (baca: sito). Kondisi “cito” membuat […]

MALU LAGI (82):

MALU LAGI (82): Tidurku terusik. Istri berbincang lewat telepon genggamnya seakan terjadi gempa bumi. Tak jelas siapa lawan bicara yang membuatnya seperti jantungan. “Iya, Bu. Nanti saja kita melayat bersama,” ujar istriku seraya menetapkan waktu pukul 10.00 Wita. Aku tetap saja malas bangkit. Kulanjutkan tidur pagiku. Namun, berkali-kali hapeku berdering. Pun, aku tak peduli. Mataku […]

MALU LAGI (81):

MALU LAGI (81): Empat kantong sampah besar disodorkan istriku untuk dibuang jelang tengah malam. Kuteliti: tiga kantong berisi sampah kering, mulai dari kertas koran, karton, hingga makanan kedaluarsa. Aku bingung begaimana mengangkut sampah dengan hanya berkendara sepeda motor. Pun, kupinta istri ikut. Namun, saat dia bersalin pakaian, kubatalkan. Aku memilih untuk membakar sampah di tanah […]

MALU LAGI (73):

MALU LAGI (73): Asar baru saja lewat. Istriku yang belum lama tiba di rumah sepulang kerja, kuminta bersiap-siap ikut. Anak perempuanku yang letih membersihkan isi lemari gantung bersama dua wanita paruh baya tetanggaku, agak ogah bangkit untuk berangkat. Namun, kupertegas: “Ini bukan untuk diriku!” Istri dan anakku tak tahu mobil hendak ke mana. Saat tiba […]

MALU LAGI (74):

MALU LAGI (74): Letih! Aku hampir tumbang. Waktu baru saja berpindah sebagai pembeda hari, aku yang belum tidur mengajak istri dan anak perempuanku menemui seorang teman untuk makan sahur sebelum waktu sahur di warung kegemaran kami yang menyiapkan bandeng hitam goreng: bandeng yang dilumuri tinta cumi. Dua jam kemudian, aku menyetor wajah di sebuah stasiun […]