Monthly Archives: Juni 2013

MALU LAGI (55):

MALU LAGI (55): Sebuah nomor tak kukenal masuk di hapeku saat aku tertidur di pagi hari. Kala kukontak balik, terjawab: “Punggung rajungan pesananmu sudah ada. Silakan diambil …”. Duh, terbayang nikmatnya telur-telur rajungan dari pulau di kampungku. Hanya saja, tersadar pula bila beberapa agenda kegiatan mesti kupenuhi dari menghadiri kenduri nikah sahabat, menemani makan teman […]

MALU LAGI (54):

MALU LAGI (54): Tetanggaku bikin kenduri. Ponakannya menikah. Persiapan sudah sangat matang. Pun kala aku menyarap bersama istri, anak perempuanku, dan seorang mahasiswa yang menginap untuk mendiskusikan tugas akhir, tetangga yang rumahnya tepat di sisi kanan rumahku – berbatas tembok yang sama – datang membawa beragam makanan yang berbahan daging sapi, ayam, dan ketan. Sangat […]

MALU LAGI (53):

MALU LAGI (53): Hampir tengah malam, aku menuju pulang ke rumah setelah bertemu beberapa teman lama – sungguh lama karena ada yang kubersua setelah berpisah lebih dari 20 tahun. Anak perempuanku mengekor di belakang mobil seraya berkendara sepeda motor. Dia ke kampus sejak pagi dan menemaniku menemui teman-temanku sebelum magrib. Di rumah, aku berupaya mengontak […]

MALU LAGI (52):

MALU LAGI (52): Rumah petak kecil itu kumasuki. Dua bocah balita bermain di ruang tamu. Istri teman yang juga sahabatku menyilakanku masuk setelah dirinya terlebih dahulu melangkah ke ruang tamu. Dia mengantarku untuk mengurut pantatku yang masih sakit. “Tunggu, ya. Ibu masih mengurut,” sambut seorang perempuan seraya mengawasi dua anaknya yang berada di ruang tamu. […]

MALU LAGI (51):

MALU LAGI (51): Hapeku berdering. Tertera nama dan gambar wajah istriku. “Kami tak punya kendaraan untuk menghadiri pernikahan teman kantor. Tolong jika boleh, ada sopir yang mengantar kami …”. “Iya. Nanti kucarikan.” Jelang tengah hari, hapeku berdering. Nama dan gambar wajah istriku muncul lagi. “Mana mobil dan sopir? Kami sudah menunggu.” “Iya. Tunggulah. Dia sudah […]

MALU LAGI (48):

MALU LAGI (48): Kampus tempat istriku menuntaskan magister mengadakan kegiatan yudisium bagi sarjana dan magister. Aku ikut hadir, duduk di bagian belakang. Pun, mataku yang awas jarak jauh, dapat melihat secara apik pada banyak wajah di panggung. Apalagi ketika salah seorang petinggi fakultas berdiri di mimbar menyebut satu-dua-tiga-hingga 89 magister untuk menerima selempang dan ucapan […]

MALU LAGI (50):

MALU LAGI (50): Aku sungguh ogah mengantar istri ke kampusnya untuk mengikuti wisuda magister. Terbayang letih, di parkiran hingga di dalam gedung. Namun, aku tak dapat menampik. Wajahnya begitu berharap. Malah, dia akhirnya berujar: “Dulu waktu Bapak wisuda, saya hadir. Saya berderet di bangku gedung.” Tanpa membantah, aku mandi lalu mengenakan busana rapi – setidaknya […]