Monthly Archives: Maret 2013

Malu ke-327

Malu (327): Anak lelakiku bertekad memasuki dunia politik praktis yang tak pernah ingin kusentuh walau aku terbilang sarjana Ilmu Sosial dan Poltik. Namanya masuk ke salah satu partai politik untuk segera disosialisasikan. “Kita tak merasa jika sudah tua. Kita masih seperti kemarin, melihat anak kita berlari-lari di mal-mal Jakarta,” bisik istriku kala jelang subuh di […]

Malu (328 – Edisi Khusus: Capung):

Malu (328 – Edisi Khusus: Capung): Capung jarum bertubuh hitam, biru, dan kebanyakan merah hingga di ekor, serta sayap transparan hitam, bermain di busa air terjun kecil di bebatuan. Sesekali hinggap di batu tempatku menyandarkan tubuh. Dan istriku tertawa kala kuajak capung yang diam di depan wajahku untuk berbincang banyak hal. “Kamu itu sangat kuat. […]

Malu ke-325

Malu (325): Istriku siap-siap berangkat kerja kala duduk di dekat kakiku di ruang tengah, tempatku terlelap di setiap malam setelah lelah mengetik di lantai. Dia mengelus betisku. Kulirik pelan, kulihat: ada butiran air hangat meluncur dari ujung kedua bola matanya. Keningku mengerjit. Kubiarkan imajinasinya berkejaran yang membuat dia menangis tanpa sedu. “Ada apa, Mam?” – […]

Malu ke-326

Malu (326): Pagi mulai merangkak tinggi. Aku menjemput teman istri sahabatku di Jakarta untuk kubawa berbelanja. Kuajak membeli ikan asin “sunu” (kerapu) di lokasi pelelangan ikan lalu makan ikan bakar. Setelah itu, perjalanan kulanjutkan ke rumah seorang pemesan buku. “Saya mengantar dua kardus, isinya lebih 350 eksamplar,” tuturku via telepon genggam kepada si pemesan kala […]

Malu ke-324

Malu (324): Usai mengikuti taksiah kematian ibu sahabatku di kampung, kuajak beberapa teman dan istri serta anak-anakku mengasup nasi kuning di tengah pasar, tempat pelelangan ikan bandeng di jelang tengah malam. Aku sangat senang membeli ikan bandeng segar lalu digoreng di warung. Dan betapa nikmatnya kami makan. Istriku yang mengaku kenyang, lupa bila aku sudah […]

Malu ke-323

Malu (323): Cover buku terbaru yang kutulis dan sudah dicetak, disepakati ditambahkan sebuah lambang berupa kata. Kuusulkan: “Kita stempel saja sebab semua buku sudah rampung.” Anak perempuanku tidak sepakat, katanya “tinta stempel itu akan hilang jika digosok.” Namun, aku bersikukuh. Pikirku, “Tinta stempel itu tak mudah hilang.” Dan kami kemudian menyetempel seribuan buku di rumah […]

Malu ke-322

Malu (322): Ibu sahabatku wafat. Aku terbilang telat mendapat kabar karena hape ku-off-kan. Tanpa menunggu waktu lama, sore langsung aku melajukan mobil ke kampung. “Nanti besok sebelum zuhur, jenazah dimakamkan,” sambut sahabat yang memang masih bertalian kerabat denganku. Dan seperti biasa, aku selalu saja melakukan ‘ritual’ kuliner tradisional yang kuakrabi semasih kecil. Belum tengah malam, […]