Monthly Archives: September 2012

Malu edisi 145

Malu (145): Magrib ke isya terasa cepat. Seorang teman yang berposisi anggota DPR-RI mengabarkan bila dirinya ada di kotaku. Teman kala aku masih jurnalis di Jakarta. Lewat telepon, dia menanyakan kondisi kesehatan yang kujawab: “Sangat sehat! Berat badanku turun hampir sepuluh kilogram.” Pun dia menjelaskan bila perutnya makin tambun. Katanya, “Saya sudah mencoba beragam hal […]

Malu ke-144

Malu (144): Ketika aku ke daerah, seorang mahasiswa menelepon: “Mau masuk mengajar atau tidak …”. Nadanya sedikit mengancam. Pun kujawab, “Besok pagi saja kita ketemu.” Dia masih bertanya, “Jam berapa” yang kujawab “pukul 05.00 Wita”. Dia tersentak heran. Aku tak peduli. Esok pagi, aku ke kampus. Tak ada mahasiswa yang datang walau aku sudah menelepon […]

Malu ke-143

Malu (143): Berhitung menit menuju puncak siang, aku menggenjot mobil ke daerah yang jarak tempuhnya sekitar 100 kilometer. Tujuanku: bertemu gubernur lalu ikut pulang untuk wawancara dalam perjalanan. Aku ditemani anak perempuanku dan singgah menjemput teman di kampung yang bakal membawa mobil pulang. Ketika tiba di rumah jabatan bupati, aku langsung masuk dan bertemu banyak […]

Malu ke-142

Malu (142): Sore nyaris di pengujung. Tubuh letih. Namun, aku masih saja berbincang dengan tiga teman di sudut ruang sebuah warung kopi di kampung seusai kenduri komunitas seni pertunjukan yang kudirikan 11 tahun silam. Seorang teman mengatakan bila sebuah sekolah tidak mengirim utusan untuk menghadiri pementasan yang kugagas untuk guru dan siswa di kampungku. Mengapa? […]

Malu ke-141

Malu (141): Anak-anakku sangat pagi berangkat kuliah. Istriku berangkat pula kerja. Aku sendiri di rumah. Tanpa mandi yang menjadi rutinitas bila bangun pagi, aku membuka laptop. Mengetik. Saat asyik menulis, pintu pagar terbuka. Tak kuintip. Pintu digedor. Tak kutelisik. Tiga kali mengucap salam, barulah bibirku mengucap: “Silakan masuk …”. Dari ujung mata, kulirik tanpa kata. […]

Malu edisi 140

Malu (140): Matahari mulai meninggi kala aku jemput istri dan anak lelakiku yang dua malam menginap di rumah kakak istri di kampung – tempat ibu dirawat. Namun masih harus menunggu. Istriku sedang memisioterapi ibu. Di tembok pembatas taman kecil, aku membuka laptop. Melanjutkan pengetikan. Tiba-tiba seorang tamu, wanita yang terbilang tua, keluar dari rumah lalu […]

Malu ke-139

Malu (139): Ceramah taksiah baru saja usai. Aku yang berada di teras rumah panggung dipanggil masuk di ruang tengah. Tetamu wanita terpisah. Tetamu pria berjejer menghadapi sajian beragam kue dan minum. Aku duduk bersila dekat ustadz dan bupati dari kampungku. Mataku menyapu suasana rumah yang masih terbilang keluarga – rumah yang berada di daerah lain. […]