Monthly Archives: Juni 2012

Edisi Malu ke-55

Malu (55): Seharian hanya di ranjang. Aku coba tidak mengasup obat herbal maupun kimia. Ternyata, tubuhku kalah. Walau masih sempat keluar sejenak di ujung jalan, makan coto dua mangkok serta tiga ketupat – makanan pantangan yang masuk ke lambung melewati tenggorokan yang tak pernah mau kalah. Anak perempuanku yang pulang kuliah, agak marah: “Kenapa tidak […]

Malu ke-54

Malu (54): Merah makan putih! Ramalan berupa joke yang kuintip dari ‘pernyataan’ teman itu kulontarkan di berbagai tempat untuk ikut larut EURO 2012. Di kedai kopi, warung makan, di tempat ngobrol bebas, pertemuan keluarga, ramalan yang katanya berlandas metafisika, kubeberkan sebagai kepastian. Bagai suatu kebenaran, banyak orang di sekitarku yang ternyata percaya. Apalagi, kala Spanyol […]

Edisi Malu ke-53

Malu (53): Tergoda ramalan metafisik sepakbola bahwa pemenang adalah yang memiliki warna kuning di busananya, aku memelototi pertarungan dua negara asal Semenanjung Siberia. Sangat kuyakin: Spanyol melangkah ke final lalu bertemu tim berwarna putih. Di final, merah akan menelan putih – begitu prediksi liar temanku yang maniak bola. Pun aku tertidur ditonton siaran teve. Brak.. […]

Edisi ke-52 Malu

Malu (52): Masih pagi aku ke bengkel resmi. Suku cadang yang kupesan satu pekan sebelumnya, tiba. Di ruang tunggu, aku melahap koran-koran yang menyajikan kabar yang sepertinya dari itu ke itu: korupsi, korupsi, dan korupsi. Kala membaca tarik ulur dua instansi super besar, sebuah pesan singkat masuk, “Saya butuh kerja. Siap jadi pembantu”. Nomor itu […]

Malu edisi ke-51

Malu (51): Subuh masih jauh. Sangat sunyi. Letih pulang ke rumah jelang tengah malam setelah ditraktir satu keluarga oleh istri dengan gaji “13”-nya, melelapkan. Deringan telepon mengusik. Tanpa sempat menjawab panjang, kubangunkan seisi rumah. Panik. Kabar dari ayah istri yang mengabarkan bila ibu sakit, tak memberiku ruang berpikir jernih. Lomba mandi ala kadarnya pun tersaji. […]

Edisi Malu ke-50

Malu (50): Seorang teman teaterawan di Jogja, kerap menjelaskan makna dari pesan singkat yang kukirim padanya. Kadang hanya tanda baca titik, koma, tanya, garis miring, atau malah sebuah kata yang kelihatannya tak bermakna. Teman itu sangat mafhum apa yang menjadi inginku. Bila kalimatnya panjang, tentu dia makin paham. “Tidurku resah”, dia segera menjawabnya: “Saya datang”. […]

Edisi Malu ke-49

Malu (49): “Makanan Mama” – begitu ucap adik perempuanku yang berulang tahun di rumahnya, di kampung. Beragam sajian masa kecil di meja. Namun, tak ada ceria tergambar di wajah salah seorang adikku yang lain. Padahal, biasanya dia melempar joke yang kemudian disambut sahut-sahutan kelucuan. Malah, dia tak ingin bila aku menceritakan kepada saudaraku yang lain […]