Esai Malu (123) > Jadwal mingguan haruslah kujalani: mengantar istri ke kampung menjaga ibu. Namun, rencana ke kampung Jumat malam, terkendala. Saya sangat letih. Anak lelakiku baru tiba dari kampung. Anak perempuanku langsung terlelap di kamarnya setelah tiba di rumah. “Kita ke kampung sebelum subuh. Nanti, kita mampir di warung kopi sebelum sampai di rumah […]

Esai Malu (116) > Belum larut, istriku tiba-tiba menyuruhku rehat. Awalnya, hanya berupaya membaluri salep obat ke bekas operasi dan kulit yang memerah-hitam di kaki kiriku. Namun, dia justru melarangku bekerja. “Tidur saja!” Jelang tengah malam, saya menyusup meninggalkan kamar tidur. Saya sangat ingin mengetik naskah buku, tetapi saya tidak ingin mengusik istriku yang terlelap. […]

Esai Malu (104) > Undangan menghadiri upacara hari proklamasi, perkenalan dengan petugas paskibraka, penurunan bendera, hingga ramah tamah, kutepis. Padahal, hampir setiap tahun saya hadir di gubernuran, khususnya malam ramah tamah. Saya memilih berkutat di rumah. Pasalnya, semalam saya mengundang dua-tiga teman perupa untuk datang ke rumahku: mengasup cumi-cumi goreng, mengambil lukisan karya mereka untuk […]

Esai Malu (98) > Tiket di tangan. Harus transit di Cengkareng sebelum terbang ke Makassar. Itu sebabnya, saya membatasi bawaan agar tidak tersiksa. “Tak boleh banyak oleh-oleh yang mesti kubawa. Saya tidak boleh letih oleh beban” – pikirku. Masih sangat pagi, kubeli salak pondoh lima kilogram. Harganya sangat murah: Rp 9.000 per kilogram. Namun, saya […]

Esai Malu (72) > Berhitung menit menuju puncak malam, saya terbangun oleh deringan hape. Seorang teman yang bekerja sebagai terapis mengabarkan jika dirinya baru saja usai menerapi, dan dia menanyakan kesiapanku: “Apakah, Bapak masih menunggu?” Saya langsung menjawab “iya”. Pasalnya, tubuhku sangat letih setelah melewati perjalanan pesawat yang cukup meletihkan. Apalagi, kala tiba di hotel […]

Esai Malu (67) > Saya ketiduran dari subuh hingga pukul 09.10 Wita. Padahal, saya harus ke tengah kota – saya diberi waktu oleh wali kota untuk membahas pembuatan buku kumpulan esai dari salah seorang sahabat, di rumah pribadinya pada pukul 10.00 Wita. Duh, saya sungguh telat. Anak perempuanku yang berniat ikut menumpang, kuturunkan di tepi […]

Esai Malu (52) > Jumat di pengujung syakban. Saya berencana mengantar 500 eksemplar dari dua judul buku karya pribadi orang nomor satu di provinsiku yang telah kucetak. Harapanku: ada biaya hidup menghadapi ramadan. Lagipula, buku itu dipesan dua pekan sebelumnya. Masih terbilang pagi, kugedor pintu tetangga yang memegang kunci rumah yang kutempati menyimpan beragam barang […]